This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 23 Maret 2012

Pelajar Mewarnai Dunia


Budaya sebuah bangsa yang maju di antaranya dapat dilihat dari jumlah peninggalan literaturnya. Jejak rekam gagasan dan pemikiran tersebut, akan menjadi warisan penting untuk meningkatkan pembangunan karakter sebuah bangsa. Krisis karakter yang terjadi saat ini, salah satunya disebabkan oleh lemahnya pengembangan keahlian di bidang ini. Kecenderungan “malas” menulis, berdampak pada tidak adanya warisan gagasan melalui literatur yang baik sebagai landasan perubahan dan perbaikan.

Hal tersebut mengilhami OP3H (Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Hidayatullah) dengan menyelengarakan Bedah buku “Mewarnai dunia dengan menulis” bersama M. Anwar Djaelani, M.Si Dosen STAIL Hidayatullah Surabaya dan Peneliti Inpas serta workshop dan pembentukan Forum Pelajar Islam Menulis (forpim) pada 3 Maret 2012 di Masjid Ummul Qura’ PP Hidayatullah Depok yang di ikuti oleh Pelajar Sekota Depok

Budaya lisan yang kental dan kuat secara turun temurun harus bisa dialihkan dalam kebiasaan budaya tulisan, agar generasi mendatang masih bisa dan tetap menikmati serta merasakan kebaikan dan keluhuran budaya nenek moyang.

Banyak perubahan yang bisa dilakukan dengan menulis, sebab tulisan dapat mempengaruhi pemikiran, konsep diri dan perilaku, serta tatanan kehidupan sosial budaya masyarakat suatu bangsa. Dengan menulis, kita dapat mengubah dunia tanpa harus menjelajahi dunia, mengubah sistem ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, serta perpolitikan tanpa harus ikut politik praktis.
Banyak literatur dunia yang sangat memberikan kontribusi penting dalam sejarah peradaban umat manusia. Misalnya buku The Prince, Machiaveli telah menginspirasi pemimpin sekelas Hitler, Stalin, dan Napoleon. Buku The Origin, membuat Darwin dapat mempengaruhi pola pikir manusia tentang Tuhan. Sementara Das Capital, karya besar Karl Marx, telah memberi dampak pada pertentangan ideologi yang sangat tajam hingga saat ini.

Kondisi tersebut secara jelas sebenarnya telah menunjukkan sesuatu yang tak dapat dipungkiri bahwa kegiatan menulis sangat besar peranannya dalam membuka dan mewarnai kehidupan dunia.

Kemajuan teknologi dan perkembangan dunia saat ini memungkinkan seseorang untuk lebih produktif dalam menulis, menuangkan ide dan gagasan, ilmu dan  pengetahuan, curahan rasa, bahkan hingga profokasi. Banyak media alternatif makin mempermudah aktifitas, kretifitas dan inspirasi dalam menulis. Semua itu membuat menulis menjadi sebuah kegiatan yang menarik, mudah, dan mengasyikkan. Menulis dapat dilakukan oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja segala usia dan tingkat strata kehidupan manusia. Membaca membuka jendela dunia. Menulis, membuka dan mewarnai dunia. Mohammad Khomaini

Kamis, 22 Maret 2012

Aksi Simpatik Mahasiswa STIE

Hidayatullah Depok
Ratusan Mahasiswa STIE melalui Gerakan Beli Indonesia' melakukan aksi simpatik di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (01/03). Gerakan Beli Indonesia tersebut merupakan gerakan sosialisasi kepada masyarakat untuk tetap berjualan dan membeli produk hasil karya bangsa sendiri agar perekonomian tetap dikuasai dan persaudaraan tetap terjalin sesama bangsa Indonesia. 

Momen yang diambil bertepatan dengan peringatan Hari Serangan Umum 1 Maret. Para pemuda-pemudi aksi ini melibatkan semua pihak, mulai dari pengusaha, mahasiswa, pelajar, pegawai, buruh dan semua lapisan masyarakat. "Indonesia itu tidak bisa kita bangun sendiri. Karena bangunan Indonesia tersusun dari banyak aspek, mulai dari suku, agama, ras, golongan, budaya dan lain-lain.

Munculnya semangat Serangan Umum 1 Maret itu di Tanah Abang menurut Korlapnya Sodik menyusul maraknya produk luar negeri masuk ke Indonesia umumnya. Kemudian ingin mengembalikan sentimen semangat Merah Putih dan pola fikir rakyat Indonesia agar lebih bangga membeli produk Indonesia, mengutamakan membeli produk asli Indonesia.

Pasar tanah abang sebagai pasar terbesar di Asia Tengara sudah banyak masuk produk asing dan ini seperti tak terbendung. Kurangnya pengawasan dan marak aksi penyeludupan akan mematikan ekonomi lokal. Untuk itu gerakan beli Indonesia mengajak masyarakat agar mencintai produk Indonesia, membeli produk Indonesia walaupun mutunya kurang baik, tapi itu sangat berarti dan membantu produsen indonesia untuk tumbuh berkembang.

Seperti yang telah diajarkan oleh Panglima Sudirman dan kawan-kawan, Beli Indonesia akan melakukan aksi serupa yang disebut dengan Serangan Umum Beli Indonesia 1 Maret 2012. "Ini adalah sebuah aksi edukasi kepada masyarakat kita apa yang harus dilakukan untuk membela negeri yang telah dikuasai asing saat ini," kata Ahmad Nur Sodik, Koordinasi Aksi. Menurut Sodik, aksi ini dilakukan dengan cara turun ke pasar-pasar atau sentra keramaian menemui pembeli dan penjual dan menjelaskan tentang pentingnya membela produk negeri sendiri. Dilakukan serentak di 7 kota di Jawa dan Sumatera; Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, Bandung, Pekanbaru, dan Pekalongan. 

Beberapa kota lain juga melakukan aksi yang sama. "Membela produk sendiri itu bermakna juga membela saudara sendiri, karena dengan begitu saudara kita memiliki penghasilan dan menghidupi karyawan yang bekerja membuat produk itu," jelas Sodik. Lebih dari itu, lanjut Sodik kita menumbuhkan ekonomi negeri sendiri dengan memulai dari membangun kehidupan ekonomi rakyatnya.

Aksi ini akan kita lakukan bersama-sama sebagaimana pendahulu kita dulu membangunnya," tegas Sodik. Ketika ditanya apakah gerakan ini akan berhasil, Sodik berkata, "Tidak ada yang lain di dalam hati ini kecuali keyakinan bahwa ini akan berhasil. Pak Dirman dulu juga tidak tahu bagaimana hasil dari serangan umum yang mereka lakukan, tetapi mereka terus dan tetap berjuang. Karena perjuangan itulah yang akan mengantarkan hasil," kata Sodik dengan penuh keyakinan. Indonesia saat ini, kata Sodik membutuhkan banyak pejuang. Siapa pejuang itu? "Temuilah mereka dalam jiwa-jiwa orang-orang seperti Soekarno, Hatta, KH. Ahmad Dahlan, KH, Hasyim Asyarie, Sudirman, Natsir, Agus Salim, AA. Maramis dan lain-lain yang mereka itu lebih banyak memikirkan negara, bangsa dan orang lain daripada memikirkan dirinya sendiri," Sodik mengakhiri. Mohammad Khomaini

Selasa, 20 Maret 2012

Realisasi Peran IMHI


Ikatan Mahasiswa  Hidayatullah Indonesia (IMHI) sebagai wadah dalam menampung aspirasi keberadaan dan potensi civitas akademika mahasiswa Hidayatullah tiga perguruan tinggi, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok, Sekolah Tinggi  Agama Lukman Al-Hakim Surabaya (STAIL), Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Balikpapan 09-11 Maret  menggelar Rakernas di Auditorium  STIE.

Rakernas yang pertama kali ini diselenggarakan setelah terbentuknya kepengurusan  IMHI di Balikpapan, Kaltim mengangkat tema “Realisasi Peran Mahasiswa Hidayatullah Indonesia dalam Membangun Indonesia Sejahtera”. Rakernas  ini menitik beratkan pada persamaan persepsi dan paradigma berfikir luas dan kritis mahasiswa dalam memperkuat eksistensi mahasiswa selama dibangku kuliah serta setelah ditugaskan di daerah.

Hal tersebut diharapkan akan memperjelas visi hidayatullah dalam Membangun Peradaban Islam bagi kader yang sedang menyelesaikan jenjang pendidikan strata 1 /S1 ini. Manhaj  (SNW) Sistematika Nuzulnya Wahyu sebagai landasan untuk merubah tatanan kehidupan seperti tersirat dalam surah Al-Fatihah. Pada puncak peradaban itu sendiri manusia dapat memposisikan dirinya sebagai hamba Allah serta Khalifah di muka bumi.

Secara empiris visi membangun peradaban Islam itu tidaklah berlebihan dan bukan utopia. 
Agenda tersirat selama 30 tahun yang dicanangkan oleh Allahuyarham Ust. Abdullah Said amat sangat memungkinkan untuk bergerak pada satu tahap yakni memakmurkan, mengisi mengembangkan kampus peragaan yang telah menyebar di seluruh Indonesia. Satu tahapan baru tersebut kami (Syabab Hidayatullah) pahami sebagai keniscayaan untuk menbangun gerakan keilmuan.

Gerakan keilmuan ini sangat memungkinkan dan sangat mendesak untuk diwujudkan. Ketua umum DPP Hidayatullah Dr. Abdul Mannan yang terpilih di periode III ini, menilai sebagai figur yang telah memberikan keteladan mendasar akan hal ini. Bahkan jika mengacu pada spirit SNW sejatinya ilmu merupakan satu tahapan penting yang harus segera dimiliki dan diimplementasikan oleh para kader Hidayatullah. Jika ini terwujud InsyaAllah, banyak SDM berilmu di Hidayatullah. Maka tidak akan mendatangkan suatu kekhawatiran sebagaimana telah memicu terjadinya perpecahan pada ormas yang lain.
Jika kita komparasikan dengan perjuangan Nabi Muhammad SAW, saat ini Hidayatullah telah berada pada fase Madinah. Fase dimana sebuah sistem, kultur dan nilai-nilai mulai dibangun secara kolektif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 

Perang adalah keniscayaan pada zaman ini, perang yang sering terlupakan adalah perang melawan globalisasi dengan spirit materialisme. Pada saat yang sama salama 30 tahun lebih hidayatullah masih berputar pada problem internal, sekarang saatnya Hidayatullah tampil untuk turut serta aktif mengatasi problem keumatan melalui jalur formal kenegaraan dengan tetap menjunjung tinggi prinsip imamah jamaah tanpa interes alias ikhlas hanya karena Allah SWT.** Mohammad  Khomaini, Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah

Baca Juga!!!